Cerita Mini

Bersyukur itu Indah

19 Agustus 2017

~Tinggalkan Komentar~


Di taman dekat komplek perumahan, banyak sekali bunga-bunga yang tumbuh. Ada mawar, melati, lili, tulip dan masih banyak lagi jenis bunga yang lainnya. Bukan hanya bunga, taman itu juga dilengkapi fasilitas seperti ayunan, jungkat-jungkit, meja mini dan beberapa bangku yang dicat warna putih.

Banyak orang yang berlalu lalang datang ke taman tersebut dengan berbagai tujuan. Ada yang olahraga dengan lari-lari kecil mengelilingi taman, ada yang bersantai ria dan ada juga yang mengambil gambar dirinya dengan keindahan bunga-bunga.

Di sisi lain, terdapat pohon bambu yang tumbuh tepat disamping taman itu. Ia merasa iri dengan kecantikan bunga-bunga yang membuat banyak orang terpukau saat melihatnya.

Suatu hari, pohon bambu menyapa salah satu bunga yang ada di taman untuk menceritakan isi hatinya.

“Hai bunga, apa menurutmu aku ini terlalu jelek?? Hingga banyak sekali orang yang mengabaikanku. Aku memang tak seberuntung kamu.” Ujar pohon bambu dengan lesu.

“Kamu tidak tampak buruk kok.. Sebenarnya kamu lebih beruntung dari aku” Jawab bunga meyakinkan.

“Apa yang menguntungkan dari diriku?? Orang saja tidak mau mendekatiku. Aku tidak seperti dirimu. Dimana orang-orang datang mengunjungimu, merawatmu, mengagumi mu. Dan lihatlah.. Aku hanya berwarna hijau, beda sekali denganmu yang memiliki banyak warna yang membuatmu terlihat semakin cantik”

“Kamu beruntung. Karna kamu memiliki akar dan batang yang kokoh untuk menahanmu dari terpaan angin. Sedangkan aku.. Saat musim angin datang dan menerpaku, batangku goyah dan daun juga kelopak bungaku banyak yang gugur. Aku sadar, memang banyak orang yang mengagumiku. Tapi terkadang mereka memetikku dengan kasar dan itu sangat menyakitkan.” Jelas bunga

“Bersyukurlah, bambu.. Percayalah bahwa Tuhan menciptakan kita dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Tak perlu cemas dengan keadaanmu. Kamu berguna. Banyak orang yang memanfaatkan batangmu untuk membuat atap rumah, pagar, meja dan kursi” Tambah bunga menasehati.

“Terima kasih, bunga.. Mulai sekarang aku akan bersyukur dengan keadaanku. Memang benar katamu, bahwa hidup pasti ada kurang lebihnya. Aku tidak akan merasa iri lagi. Aku akan menjalani hidupku dengan ikhlas dan bersyukur” Ucap bambu senang.

Semenjak hari itu, bambu tidak lagi memikirkan kekurangannya. Ia percaya, bahwa ia masih punya kelebihan yang bisa diandalkan dan berguna untuk makhluk hidup lain.

TAMAT



“Tak perlu cemaskan kekurangan yang ada dalam diri kita, sempurnakan itu dengan keikhlasan. Karna bersyukur itu indah.”

(Dwi Sinta Kartika Ayu)

Iklan
Puisiku

Aku dan Kenangan

Malam ini, aku memilin lembar-lembar yang sudah lalu

Kubuka dan kubaca satu persatu

Hingga ku jumpai sebaris kalimat pada lembar yang sudah koyak

‘Bak merpati bermata biru’ begitu isinya..

Kucoba mengingat asal muasal kalimat itu

Kucoba mengingat bagaimana kalimat selengkapnya

Tapi percuma, kertas itu sudah terlanjur hancur lebur dan tak bisa terbaca lagi.

Aku jadi rindu seseorang yang bernama dia

Masih kuingat betul bagaimana ia tertawa renyah dengan menunjukkan deretan giginya yang putih.

Pastinya tawa itu bukan karna aku,

Karna aku hanya melihatnya dari jauh.

Apakah untuk merindu memerlukan jarak?

Hmm.. Aku merindukanmu!

Tetapi, rindu tak selalunya menuntut temu

Seperti rinduku malam ini..

Maka bisa kukatakan,

Rinduku tak memerlukan temu

Jadi, kan kubiarkan saja malam ini ia bermain sesuka hati

Membolak-balik lembar kisah yang telah lalu

Ketika sudah merasa jemu, lesu dan kantuk

Kuyakin pelupuk beningku kan segera mengatup

Magetan, 26 Maret 2017

Dwi Sinta Kartika Ayu

Tak Berkategori

Dia-lah Cinta

Adalah cinta yang tersusun dari kata sederhana

Adalah cinta yang datang tak terduga

Adalah cinta yang pergi tanpa disengaja

Adalah cinta yang masih butuh waktu untuk mengeja

Adalah cinta yang kini telah ada dalam ketiadaan

Adalah cinta yang bersenandung saat jiwa terbendung

Adalah cinta, dimana rindu menjadi tokoh utamanya

Sedangkan kau..

Kau adalah dia yang pertama

Yang mampu membuatku tuli saat pertama kali mengajak-ku bicara

Yang membuatku jatuh terkesima

Yang menciptakan hal baru untukku

Yang mengajarkan-ku arti sebuah rindu

Yang kadang membuatku sendu

Yaa.. Dia yang pertama bagiku

Dan dia adalah kau yang saat ini ada.

Magetan, 18-05-2017

Dwi Sinta Kartika Ayu

Tak Berkategori

Rasa yang Sama pada Masa yang Berbeda

Kubiarkan hati ini mengalir

Membawa jutaan rasa tanpa akhir

Kubiarkan otak ini berfikir

Membawa jutaan gambar tanpa akhir

Aku membisu didalam lagu

Meresapi tiap bait yang menyentuh

Aku berkata diatas kertas

Membiarkan tanganku menari bebas.

Aku punya rasa… Rasa yang kurasakan sendiri.

Rasa yang kubayangkan sendiri.

Rasa yang kupeluk sendiri.

Aku manusia, aku normal dan tak gila.

Aku bergeming dalam cerita.

Cerita yang hanya aku dan Tuhan-lah yang tahu semua.

Aku bisa mencintai, tapi.. hanya sebatas dalam hati.

Aku tahu… Sungguh teramat sakit memendam rasa.

Menjalani hari penuh tekanan tak biasa.

Aku koma… Antara harapan dan putus asa. Antara rasa dan logika.

Sungguh teramat sangat lelah.

Menjalani hari penuh doa dan.. mengharap sesuatu yang samar, lalu.. memimpikan hal yang mengawang.

Aku bisa apa!? Jikapun harus ku ungkapkan, itu semua akan sia-sia. Kenapa!? Karena aku tahu, dia tak akan pernah suka.

Karena aku tahu, kita sangat berbeda.

Karena aku tahu, dia hanya singgah semata.

Cinta… yang datang padaku tak bisa kurasa.

Aku masih sama.

Dalam kesendirin, menikmati kebebasan. Dalam keheningan, menikmati kehidupan. Dalam kesunyian, menikmati keseruan.

Dan lagi kunikmati,

“Rasa yang Sama pada Masa yang Berbeda”